BROMO DALAM ESCAPADE

November 14, 2015




 
Kaldera - Guratan di pasirnya menandakan bahwa saksi keindahan mereka terus berdatangan
­­

Kerudung putih yang terbang menutupi puncak itu menyibak pemandangan lain, bukan untuk menutupi tetapi melukis kembali. Bromo di bulan November memberikan detail lukisan alam dengan asap putih tebal yang membumbung tinggi, sedangkan sang Tengger hanya diam terpaku di tengah lautan putih. Lautan pasir abu-abu mencetak jejak kuda mesin manusia yang melintasinya, berdamai dengan rerumputan yang tumbuh meski tak hijau, tapi jelas-jelas memberikan kesan baru di atas abu.

Dari sini, Bromo adalah gunung pendek yang berasap. Puncak Tengger yang selalu diam, dan selalu menemani adiknya yang rewel itu, masih saja sabar. Tak ada kekhawatiran terlintas, saat melihat kepulan putih di puncak Bromo, bahkan menjadi sebuah pemandangan yang indah dan baru, seakan asap itu bukan sebuah pertanda buruk, tapi hanya pelengkap, sesuatu yang harus dilakukan, dikeluarkan, seperti biasa, tanpa mengganggu. Deru mesin 4000 cc itu melesat diatas pasir abu-abu, diikuti oleh deru yang sama 5 atau 6 jumlahnya, mereka tidak berhenti disini seperti mereka, yang sibuk berfoto ria, sedang aku, sibuk dengan kameraku dan mencoba mendengar bisikan dari pasir.






Pasir yang berbisik - Bisikan yang datang dari semilir dan deru mesin


Kaldera ini selalu menerima manusia yang tak lelah mencari suaka dari kesibukan dunianya, menyuguhkan gambar indah, menuliskan rasa di hati para pelancong surga dunia. Satu persatu jejak kaki itu datang dan menghilang, namun rasa itu yang selalu sama, yang selalu mengundang kembali para peziarah untuk datang dan mencicipi lagi. Tempat ini hanya bisa dinikmati dengan perjalanan, sebuah pengalaman untuk melakukan. Terkadang rasa datang bukan dari tempat yang dituju tetapi kesulitan dan tantangan yang ada sebelum kaki menjejak tujuan, memberi makna lain untuk pembelajaran.

 Cerita tentang perjalanan akan mengawetkan kenangan, memberikan pesan juga inspirasi untuk melakukan tantangan, Escapade adalah perjalanan, Escapade adalah wadah kenangan, yang akan menarik tangan tangan itu untuk menyentuh sinar mentari, merasakan uraian udara, mencari kedamaian, dan semuanya berputar kembali untuk melahirkan panutan. Guratan di pasir itu menuliskan jutaan perjalanan di atasnya, tak pernah bosan untuk menyimpan, biru di ufuk terus memanggil dan mengundang, meski kau tahu bahwa perjalanan dilakukan hanyalah untuk kembali pulang.


Bukit Cinta - lautan putih awan yang membungkuk di sekitar penguasa, Tengger dan Bromo

Rasanya baru kemarin kujejakan kaki di pasir yang sama, setahun lalu. Kami bertiga sibuk dengan peralatan perekam gambar masing-masing. Mas Arbain dengan sigapnya mengarahkan lensa kecil dengan kamera yang juga bersaing dengan ukuran lensa mini itu, ke kanan, ke kiri, atas dan bawah. Kamera di tangannya itu pun bahkan belum mengenal pasar penjualan di Indonesia, sebuah prototype dengan tulisan kecil di bawah badan kamera hitam itu, not for sale. Ratusan undakan anak tangga itu seakan menantang kami di bawah sini, tangga semen kurus yang curam itu satu-satunya jalan menuju kawah Bromo. GoPro, 5D dan beberapa lensa kami bawa, Adit yang selalu wira-wiri untuk merekam kegiatan kami menjadi video, di bibir kawah Bromo kami memotret apapun yang terlihat, tak ada –ulangi- tak ada satupun yang lolos dari bidikan lensa kami. Aku begitu tergila-gila dengan Timelapse, benda hitam kecil bernama intervalometer itu pun tak pernah lupa ku bawa, kemana pun. Puas dengan hasil liputan kami tentang memotret Bromo, dan juga segudang foto dalam kartu kecil perekam yang terpasang dalam badan kamera, kami pun memutuskan untuk turun, melewati anak tangga itu lagi. Kamera DSLR itu tersanding di bahu kiriku, GoPro kecil di ujung tongkat itu kumasukan dalam jaket, dan kami mulai berjalan menuju jip yang kami sewa sejak pagi. Bangku jip ini cukup tipis untuk menahan pantatku, kamera DSLR 5D sudah berada di atas bangku, namun aku merasa ada sesuatu yang janggal. Kamera GoPro hilang! Yang beberapa menit lalu masih berada dalam jaketku. Sial! Ku kabarkan berita duka ini kepada mereka, kemudian aku bergegas untuk menelusuri lagi jalan yang kami lalui tadi, setelah hampir satu jam, tak ada apapun, lenyap sudah.


Serangan awan - menyapa kaldera

Kami bukan hanya penjelajah tapi juga peziarah, mencari sebuah rasa yang tak henti dicari, membuat sesuatu yang berarti, meski kadang hanya kami yang mengerti. Perjalanan kami tak pernah mencapai ujung, jejak kami kami tercetak di bumi yang tak bertepi. Perjalanan yang dimulai dari sebuah langkah kecil, tak peduli akan kebesarannya nanti, saat ini hanya kami dan alam yang berteman, bersatu dalam ruang keindahan.
Manusia dan alam bersatu, mencipta sebuah makna rasa yang hanya bisa dirasa bagi para pelakunya, meski harus melintas batas kemampuan manusia dan pergi dari lingkup kenyamanan . Perjalanan membuka mata manusia, sebuah kodrat yang dijalankan sejak pertama tercipta, untuk bertahan hidup dan kini, sebagai pelipur hasrat atau bagi sebagian lagi menjadi bahasa perdamaian untuk masuk dalam perbedaan.
Menunggu - Raksasa pendiam, Tengger yang menyambut

Lukisan - Pasir yang berbisik juga melukis

Asap Bromo - status waspada-lah

Sunrise - Mentari, awan dan pegunungan

Peziarah - menikmati dan hanya itu.

You Might Also Like

0 comments

worldlifetravel. Diberdayakan oleh Blogger.