Lukla, Bandara Paling Berbahaya

Rasa itu ada, tak bisa kujelaskan bagaimana, tapi itu ada, mataku tak henti memandang pucuk runcing di luar sana terhias butir es dan bebatuan yang bersembunyi dibaliknya. Himalaya, negeri Moksa-nya para Pandawa, negeri bersemayam-nya para raksasa, sebentar lagi, aku akan menghadapimu”.

Hari ini kami harus memakai pesawat kecil untuk terbang menuju Lukla, desa setinggi 3300 mdpl. Ini terkenal dgn bandara super sibuk dan salah satu yg paling berbahaya di dunia. Dua mesin baling baling itu meraung, saat kami melewati celah diantara gunung tinggi yg hijau, seakan bisa teraih dgn menjulurkan tangan, tiba tiba pesawat bergetar dan bergerak naik turun karena turbulensi yg cukup mengocok perut. Pilot dan co-pilot di depan ku menarik tuas dan memencet beberapa tombol usang di atas panel, kulihat ke sekeliling, pesawat kecil ini penuh sesak dgn turis, pendaki dan Sherpa, seorang pramugari duduk di bagian ekor pesawat yg begitu dekat dgn tempat dudukku. Akhirnya kulihat sebuah landasan di depan kami, dari balik kaca jendela pilot using itu, terlihat.. landasan itu tidak normal, warnanya hitam dan bertulis angka 24 warna putih. Ku perhatikan dgn seksama, ternyata jarak landasan itu begitu pendek, sulit kupercaya pesawat ini akan mendaratkan kami kesana, beberapa saat lagi.

Welcome to Tenzing Hilarry airport, Lukla. Namun seketika muka tidak ramah ber-baret biru itu memakimakiku, senjata di tangannya buatan tahun 1920-an, dia membuka kunci gerbang dan menyuruhku keluar, wow. Dia adalah polisi bandara Lukla yg mungkin sudah jengah menghadapi turis yg potrat potret di dalam landasan terbang dan mendapati puncaknya saat aku mengarahkan lensa lebarku ke arah mukanya. Dari balik jeruji besi pembatas kulihat teman teman dan para porter juga Ang Dawa bersiap untuk berangkat. Perjalanan singkat menuju sebuah hotel yg sederhana. Kami naik ke lantai dua, memesan kopi hangat dan spaghetti, sementara para porter sibuk memilah peralatan untuk masing masing mereka bawa dgn ikatan di kepala.

Dari beranda, kulihat ke arah kiri, sebuah landasan pacu bandara Lukla tempat kami mendarat tadi. Ternyata konstruksinya dibuat miring mungkin sekitar 30 derajat menanjak dari tempat roda pesawat pertama kali menyentuh aspalnya, di ujung landasan seakan terputus, jurang yg entah berapa dalamnya, ditemani pemandangan menakjubkan, gunung gunung himalaya, yg bebrapa diantarnya masih hijau dan yg dikejauhan terbalut putih salju.
Perjalanan impian seorang pendaki, ke tempat suci buat kami, para penikmat alam, tempat kami berinteraksi, mencicipi sebagian kebesaran, tantangan, keindahan dan kesulitan dari sang Ibu Bumi.