Menyelami Nadi Sangalaki


Sangalaki Resort, tempat kami menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di pulau ini. Hanya ada beberapa bangunan saja di tempat seluas 16 hektar, yg cukup kita kitari dalam 15 menit berjalan kaki. Airnya begitu bening dan dangkal, dari depan club house, di atas pasir putih, pemandangan ke barat di temani oleh deretan papan kayu panjang sebagai dermaga, dan di Timur 2 menara suar di atas air berkerlap kerlip kala malam tiba, mengingatkan para pelaut akan air yang beigtu dangkal, namun dalam akan kehidupan di bawahnya.
Pemandangan kecil nan indah. Ku siapkan lensa makroku, ku periksa kembali apakah ada penyekat housing bawah airku yg bocor. Wetsuit sudah terpakai, fin, googles dan peralatan lainnya ku tenteng sambil sesekali merubah posisi karena gaya gravitasi yg keterlaluan dari housing underwaterku. Berjalan menuju perahu cepat, dengan beberapa orang sudah bertengger diatasnya. Perahu berjalan begitu pelan karena perairan yg dangkal, hingga akhirnya seperti terbebas melaju setelah masuk ke perairan yg biru, menuju ufuk barat.
Manta Point. Titik penyelaman ini tak begitu jauh dari resor yang kutinggali serasa bisa berenang kembali kesana. Dari atas airnya biru tua, di bawahnya pasir putih mendominasi, sponge besar besar menyambut kami, beserta seluruh isi lautan Sangalaki yg sudah berdandan, dgn kemeja warna warni, dgn bentuk yg bervariasi, dan kelakuan yg bikin para penyelam seperti kami terpatri. Sesekali dua strobe underwater ku mengeluarkan cahaya menyilaukan, membekukan gerakan para ikan dan kegiatanya. Ku lihat sesekali layar 3 inchi ku di kamera, warna warna begitu terang dan jelas, menantang, menundang untuk terus memperhatikan tapi tak bisa, karena aku tak bernapas seperti mereka, jumlah udara di tangki oksigenku yang menentukan semua.

Goby pasir itu malu-malu, kelakuannya seperti seekor anjing gurun, tengok kanan dan kiri memperhatikan sekitarnya dgn waspada, bila ada yg tidak ia sukai, ia akan lari kembali kedalam lubangnya. Nemo, ikan ini mungkin jadi favorit penyelam, karena ia tidak kemana-mana, setia dgn anemonnya yg membakar bila tersentuh, menari – nari penuh semangat di lambaian tabung-tabung anemon, warnanya yg merah bercampur balutan putih, kontras dgn hijau transparan si inang.
“Kali ini tidak ada plankton, makannya kecil kemungkianan kita melihat Manta tadi” ujar si pemilik Sangalaki Resor, Pak Joni. Ia menyelam sejak tahun 90-an, begitu ramah dan informatif. Tak henti ia mencoba memberikan ilustrasi tentang apa yg ada di perairan ini, terutama soal Manta. Disini memang surganya Manta, tergambar dari banyak nya spot menyelam yg menggunakan nama Manta. Manta Poit, Manta Run, Manta Avenue, Manta Parade semua berjubel di depan pulau Sangalaki. Bahkan dari situs internet, Manta di Sangalaki adalah salah satu yg terbesar di dunia. Sayang kami belum bertemu dengannya.