Pendidikan Dasar = Bully ??


Tradisi diksar (baca: kekerasan & bully) yg mendarah daging, paradigma ini yang sulit untuk dirubah. Kekuatan sebuah kelompok atau "angkatan" sebagai penyelenggaralah yang harus teguh dan kuat, untuk berubah. Inti untuk membuat diksar yang bermakna adalah Alasan yg Kuat.
Ketahui tujuan Organisasi kemudian muncul kebutuhan, barulah mencari metoda pelatihan dan yg paling sulit dilakukan adalah komitmen. Tujuan organisasi pastilah tertera dalam anggaran dasar rumah tangga, kecuali memang organisasi jadi-jadian yang tidak punya AD/ART, ini tidak usah dilanjutkan lagi karena pasti semua kebutuhan, metoda dan komitmen juga cuma jadi-jadian. Singkat kata bila semua tujuan, kebutuhan, metoda dan komitmen terbentuk, maka dalam pelaksanaan semua kegiatan harus bisa menjawab WHY? kenapa ada survival? Kenapa harus long march? Apakah hukuman push up itu perlu? Kenapa pelatih melakukan itu? Kenapa siswa melakukan ini? Semua harus ada alasan dan bisa dibuktikan. Inilah yg menuntut komitmen sang penyelenggara untuk bisa terus mengawasi jalannya latihan/pendidikan.

BAHAYA SUBJEKTIF DAN OBJEKTIF
Oke, paragraf-paragraf diatas sebenarnya hanya bisa MENGURANGI satu dari 2 bahaya yg kita kenal di alam terbuka (yaitu Bahaya Subjektif dan Bahaya Objektif)
Bahaya subjektif sudah bisa kita hadapi, yaitu dengan mengeliminasi kekurangan dari para pelaku di alam terbuka (pelatih dan siswa), bagaimana dengan ALAM itu sendiri? Inilah bahaya objektif yang tidak bisa kita eliminasi hanya bisa reduksi resikonya dengan penggunaan peralatan yang tepat, manajemen organisasi & resiko yang tepat, reaksi pelatih yg tepat dan skill para pendamping yang bukan hanya bisa membuat dirinya bertahan hidup tetapi juga siswa.
Terakhir, dan ini yang paling saya ketahui bahwa, "bermain" di alam bebas itu bukan berarti bebas semaunya, bahkan lebih rumit dari hidup di kota, semua bekal dan skill harus mumpuni, kalau melanggar aturan tidak ada yg mengingatkan karena tidak ada Polisi. Misalnya kalian bebas memakai sendal untuk kegiatan pendakian, tak ada larangan, tp butuh kemauan untuk tahu bahwa sendal itu hanyalah peralatan camp, karena akan mencelakakan kaki, bila kaki celaka, pendakian juga celaka dan akan mempengaruhi semua mahluk hidup yang ada di area itu, para porter tidak bisa bekerja karena pendakian di tutup, para pendakian lain hanya manyun saja karena uang tabungannya yang sudah dibawa jauh dari rumah untuk ekspedisi harus direlakan karena operasi SAR. semua itu hanya karena seorang pendaki yang tidak tahu kalau ia kurang pengetahuan dan pengertian untuk mendaki, tetap mendaki dan fatal akibatnya.
Mau tidur ada aturan, mau ambil air ada aturan, mau bikin tenda ada aturan, itu semua supaya kita sebagai pendaki bisa pulang dengan selamat, sementara pendaki lain bisa berkegiatan yang sama tanpa hambatan dari kita, atau si burung bisa berkicau riang karena tidak ada gangguan dari manusia. Kita hanya pengunjung yang miskin, tanpa fasilitas yg disediakan, adalah bijak bila kita mengisi tabungan kita dgn skill dan kemauan untuk menjalankan skill itu karena kita bukan hanya pengunjung, tapi pengunjung yg baik dan bersahaja, juga sopan