Berdiri diatas sini begitu sunyi, bahkan angin pun tak mampu mendaki kesini, hamparan putih yang terbentang dibawah kaki, juga biru yang menharu diatas ku, semua ini kunikmati dari balik lensa kacamata khusus yang menunda bola mataku melihat hitam selamanya, mentari itu bersinar terang dengan lidah cahayanya yang memancar kamana-mana.

Suhu dingin menjadi rancu, meski angkanya membelalakan mata yang melihat air raksa pengukur itu menjadi beku, olah tubuhku yang sudah dimulai sejak tengah malam tadi, membuat panas dibalik tebalnya dinding bulu bebek terjahit dalam kain pemisah antara kulitku dan dingin disekitarku.

Dadaku mengerang, meminta oksigen yang susah payah ku tangkap disetiap tarikan nafasku, lututku menjerit, medan yang hampir tegak lurus tadi memaksanya untuk membawaku ke tempat yang lebih tinggi, badanku berontak, tapi.. pikiranku begitu bersih, tenang tanpa beban, meski hatiku begitu mengiba untuk mengerti apa yang sebenarnya kurasa saat ini, tak bisa diurai dalam kata, tak bisa pula tertuang dalam tulisan, hanya aku dan hatiku yang bisa merasakannya.

Kubuka saku kiri dari jaket tebal buatan Rusia itu, selembar kertas tebal yang halus, tercetak gambar empat wajah yang begitu ku kenal, dari titik tertinggi itu aku mengucap doa, semoga aku dan mereka punya hati selembut salju, seputih es dan secemerlang langit, namun kuat dan perkasa layaknya raksasa yang sedang kudaki dahinya.

mendaki itu capek, sulit, tidak enak tapi karena keadaan yang mendekati nol itu yang membuatmu membuka topeng, menjadi murni, bersama mengahadapi hambatan dengan kemurnian, tertawa karena sengsara, begitu nikmatnya, begitu dasyatnya hingga tak semua bisa mengerti artinya, tak semua menginginkannya”.