Apalagi? kayaknya itu yang selalu terlintas dalam pikiran. Ekspedisi apalagi? Semuanya sudah habis terdaki, atau setidaknya saya tak punya mahar untuk melakukannya. Awalnya.


Untuk beberapa waktu saya memang sedikit tak bisa move on dari Ultra 7, sebuah ekspedisi yang kami garap sejak tahun 2016 untuk mendaki 7 puncak Indonesia, buat mendokumentasikan pendakian dalam bentuk audio visual dan 360 derajat. Tujuannya untuk bisa menjadi sumber informasi visual para pendaki Indonesia. Ini semua yang kami usulkan ke kantor, dan disetujui. 6 gunung sudah terdaki, tinggal gunung tertinggi di nusantara ini yang belum sempat kami jelajahi.

Awalnya dengan dukungan kantor dan komunitas Escapade ini, saya bahkan bisa menjamin untuk menyelesaikan projek ekspedisi itu sebelum 2016 berakhir, tapi apa daya strategi di kantor yang mengharuskan ekspedisi ini memakan waktu hingga 2 tahun lamanya. Kupikir kalau tidak bisa 6 bulan, kita bikin saja 1 tahun, selesai. Tapi tidak juga.

Saya bukan ahli strategi, tetapi menimbang operasional pendakian yang beresiko, juga banyaknya tugas yang harus diselesaikan, akan berdampak pada mental tim. Semakin cepat operasional, semakin cepat kita meraih tujuan, semakin sedikit eksposur ke resiko yang ada. Kami tetap mendaki.
Pasang surutnya sangat terasa sekali di dalam anggota tim, saya pun merasakan hal yang sama. Meskipun kami bisa menyelesaikan 6 gunung, tetapi terasa sangat berat dan panjang sekali perjalanan menuju ke titik terakhir itu.

Ini berat bukan karena operasional di tiap gunung, yang mungkin buat sebagian orang hanya pendakian biasa, tapi, ini satu rangkaian kegiatan ekspedisi yang punya titik operasi di 7 kepulauan Indonesia. Ini berat karena beban mental yang menunggu kami saat pulang, menghasilkan konten terbaik untuk referensi pendakian Indonesia.

IDE

Saat bekerja sebagai konten kreator di sebuah perusahaan, hal yang paling dicari adalah ide. Tak sulit sebenarnya buatku untuk menghasilkan ide tentang pendakian. 2 tim Indonesia Mahitala & Wanadri yang mengukuhkan negeri ini ke jenjang pendakian dunia lewat Ekspedisi 7 Summits Dunia adalah teman kuliah, teman bermain dan saudara seperguruanku. Kebanggaan terhadap prestasi mereka itulah yang selalu mendorongku untuk melakukan hal yang sama, mendaki 7 puncak dunia dan dua kutub bumi (Explorer's Grand Slam).

Explorer's Grand Slam tidak mudah dilakukan terutama masalah klasik, dana. Ide ini sudah kulayangkan ke kantor, yup, dengan keraguan. Tapi saya punya strategi untuk membuatnya bisa menarik investor, yaitu dengan membuat ekspedisi bertahap.

Tahapan Ultra 7:
  1. Ultra 7 Nusantara. di tahap awal ini kami akan mendaki 7 puncak tertinggi di 7 kepulauan Indonesia, sambil menarik simpati para investor untuk bisa memahami visi kami dalam ekspedisi.
  2. Ultra 7 Dunia. tahap ini seharusnya sudah ada investor yang bisa membiayai ekspedisi internasional ini.
  3. Ultra 7 Grand Slam. tahap ini kami bisa memberikan gelar baru bagi Indonesia dalam dunia petualangan dan pendakian dunia, dengan penjelajahan ke 2 kutub bumi.
Jadi, kecepatan untuk melaksanakan tahap pertama sebenarnya sangat krusial, karena tahap berikutnya yang sangat melelahkan di belakang layar. 

HAMPIR FINAL

Puncak Carstensz Pyramid hampir saja kami daki, bila tidak ada kesialan bertubi-tubi yang datang. Hanya beberapa hari sebelum kami bertolak untuk pendakian, hal tersebut selalu tertahan:
  • Adanya penembakan oleh OPM di sekitar wilayah Freeport, yang membuat ekspedisi ini harus menunggu.
  • Adanya perawatan helikopter. setelah menunggu beberapa lama, operasi pendakian dari desa terdekat (8 hari perjalanan) digugurkan, dengan alasan keselamatan tim. Infiltrasi ke titik Base Camp di Lembah Kuning diputuskan menggunakan helikopter. efektif, efisien dan cepat. Tapi, setelah beberapa lama bernegosiasi untuk mendapatkan harga yang pas, ternyata heli tidak bisa digunakan pada tanggal yang kami pilih, karena perawatan. Bukan hanya satu maskapai saja tapi hampir semua!.
  • Dana. semua sudah siap, helikopter pun telah beroperasional. Kami sudah menyiapkan perlengkapan dan segala tetek bengeknya untuk operasi awal pendakian Gunung Gede untuk aklimatisasi selama 2 malam, turun dan langsung terbang menuju ke Timika, Papua. Apa daya, kantor memerintahkan kami untuk menahan operasi. kecewa.
Untuk beberapa lama kami masih menaruh harapan untuk berangkat dalam waktu dekat, tapi hari berganti minggu, tak satu pun sinyal hijau kami dapatkan. Fisik kami yang sudah terlatih harus menunggu, mental kami yang sudah siap harus tertahan dulu. Pulsa telepon satelit yang hanya berlaku beberapa bulan saja, hangus. Janji kami ke Erix Soekamti untuk membuka kotak box set mereka di puncak tertinggi nusantara, pupus. Aku merokok lagi, setelah setahun berhenti. Sedih.