GBK Sebelum Asian Games 2018


Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk menengok stadion kebanggaan Indonesia, Gelora Bung Karno (GBK) di Senayan, Jakarta. Pada masa ‘pemulihan’ sekarang ini, kompleks olahraga Senayan memang tidak terbuka untuk umum. Sebuah undangan dari seorang teman yang bekerja untuk renovasi GBK, sulit untuk ditolak.






Melihat GBK lagi dari dekat, jauh lebih bersih dan muda. Meskipun stadion yang didirikan oleh pemerintahan orde lama waktu itu sudah hampir setengah abad umurnya, melihat GBK dengan penampilan yang segar membawa kembali semangat nasionalisme yang hampir pudar karena saking lamanya tidak melihat bangunan ini.

Bukan pekerjaan mudah untuk memugar stadion terbesar kedua di asia ini. Butuh banyak pekerja untuk merampungkannya, butuh banyak waktu dihabiskan untuk menyelesaikannya dan yang utamanya butuh banyak dana untuk menghidupkannya kembali.
Salah satu untaian kecil yang setiap hari bekerja keras untuk menyelesaikan renovasi ini adalah para pekerja ketinggian. Ketinggian? Yup, atap canggih-pada-masanya itu butuh keterampilan khusus, keberanian dan ketekunan tersendiri. Para pekerja ketinggian ini selalu bikin kaki saya berkeringat melihat mereka beraksi. Sedikit demi sedikit mengangkat tubuh mereka menuju bagian atas plafon yang terbuat dari besi dan saling mengikat. Tali prusik, webbing dan harness itulah yang menjamin hidup mereka tetap sehat walafiat.





Penasaran dengan keahlian mereka, terutama nyali mereka yang bisa mengalahkan rasa takut di ketinggian dan tetap waspada, maka saya menanyai mereka sambil memotretnya. Dua dari mereka sudah malang melintang di dunia ketinggian komersil seperti ini lebih dari 20 tahun!! Waktu yang begitu lama untuk menjadi sorang ahli! Dan tebak bagaimana mereka bisa terjun ke dunia kerja ekstrim ini? Mereka dulunya adalah atlit panjat tebing!!

Ahmaruddin, biasa dipanggil Dul. Belasan tahun lalu dirinya masih menjadi salah seorang atlit panjat tebing DKI jakarta dan sempat berada di peringkat 6. Tetapi hidup sebagai atlet kurang mumpuni, sehingga ia harus membanting setir dan menggunakan keahliannya sebagai pekerja ketinggian komersil. Tak tangung-tanggung hampir semua patung ikon kota Jakarta pernah ia panjat dan dibersihkan. Menurutnya hanya patung Pemuda Membangun di Senayan yang terbuat dari cor semen, sementara patung lain di Jakarta terbuat dari perunggu.

Ia bercerita saat bertugas sebagai pembersih gedung tinggi, dimana gedung-gedung itu punya tingkat kesulitannya sendiri. Sambil ngobrol jari telunjuknya mengarah ke sebuah gedung putih yang terlihat kerdil dari kepungan gedung disekitarnya. “gedung Entilen, itu gedung setan itu, yang kemaren ada berita orang jatoh dari gondola” saat itu ia bertugas untuk membersihkan sarang burung Seriti di gedung yang menurutnya paling sulit selama karirnya, karena medan yang begitu sulit dan minimnya pegangan dan pijakan, ia harus ‘nge-bor’ sambil bermain teknik karena banyak sekali medan overhang.

Dul pun bertemu istrinya di ‘tebing’, karena sama-sama pemanjat mereka pun jatuh cinta dan menikah tahun 2008. Terpaut jauh dengan umur istrinya, ia pun punya harapan besar pada karir istrinya yang sedang melanjutkan kuliah di jenjang master bidang pendidikan. Sebelum mengerjakan GBK, Dul telah bekerja di Bank Panin sebagai pembersih gedung tinggi, sebagai tenaga khusus yang bisa membersihkan dengan medan yang cukup sulit. Adanya panggilan untuk mengabdikan diri pada benda dan gedung bersejarah di Jakarta, ia pun menyambut tawaran untuk bekerja mengecat atap GBK, yang sudah 7 bulan ini dikerjakan. “saya sudah cukup ngerasain.. ini udah ngerasain..” selorohnya.
Dul punya cita-cita menjadi pedagang setelah ia menyelesaikan impiannya, yaitu memanjat Monas.