Untuk pergi ke tempat ini tak sembarang orang, bisa, bahkan dgn koneksi terbaik sekali pun. Pertambangan Tembaga yg dikelola puluhan tahun silam berubah menjadi pertambangan logam mulia yg dipuja di seluruh dunia. Emas (dan Uranium, mungkin). Banyak pandangan positif, terlebih negatif atas keberadaan tambang ini, dari konspirasi dua negara adikuasa pada jamannya, hingga persoalan psikologis masyarakat sekitar soal pencekokan untuk kesejahteraan. Jujur saja, buatku pun hal- hal itu memang sangat logis untuk mengiyakan atas nama ketidaksetujuan. Awalnya. Namun, bayangkan apa jadinya kalo tambang ini di kelola oleh negara? bukan main capeknya KPK naik turun gunung buat mencari bukti penyelewengan.

 

Tambang ini seolah mati langkah di satu sisi, tapi di lain sisi tetap mengeruk trilyunan dollar yang tersingkap di butiran tanah Papua. Di sisi pertama, mereka mati matian buat memberikan image bahwa yg mereka lakukan itu sangat besar pengaruh poaitifnya buat penduduk Papua.

Mereka undang para jurnalis untuk melihat langsung apa yg mereka kerjakan untuk rakyat Papua: Nemangkawi adalah hal pertama yg mereka tunjukkan, ini adalah sebuah sekolah setara akademi untuk para penduduk Papua yg sebagian besarnya adalah anggota Tujuh suku besar di Timika, untuk dapat bekerja sebagai operator alat berat yg bergaji lumayan, dan mereka sekolah dgn gratis plus uang saku, plus helikopter buat mereka naik turun gunung ke kampung, plus tenaga pengajar dari luar negeri. hidup yg sangat menyenangkan buat mereka, pikirku.

Sementara disini, di ibukota saja, orang orang setengah mampus buat sekolah. uang masuk TK saja bisa sampai 15 juta, program fantastis, hanya ada di Indonesia. dan di tengah rimba Papua yg jauh dari manapun, mereka yg sudah berganti pakaian dari koteka menjadi kemeja, naik turun helikopter buat pulang pergi. fiuh.

 

Hal kedua yg mereka tunjukkan adalah bagaimana mereka mengolah Sirsat atau Pasir Sisa Tambang yg mengalir bersama aliran air sungai puluhan kilometer dari pegunungan Jaya wijaya hingga ke perairan sebelah selatan Timika.

Mereka menjelaskan bagaimana pengolahan sirsat menjadi lahan yg siap tanam buat aneka buah dan sayuran. Bagaimana hutan yg hancur akibat keroyokan sirsat itu yg sampai ke sungai sungai di pinggiran Timika, membawa spesies baru, sedangkan para spesies 'lama', mereka "hanya" meninggalkan tempat itu dan memulai hidup yg baru entah dimana. semoga bukan surga.

 

TEMBAGAPURA

Menuju sebuah kota Antah Berantah di ketinggian yg hampir sama dengan puncak gunung-gunung Jawa di 1900 mdpl, Presiden Soeharto kala itu menamainya Tembagapura, tempat tinggal buat belasan ribu karyawan pertambangan ini punya fasilitas yg jauh lebih baik bahkan bila dibandingankan dgn gabungan fasilitas di kota - kota Indonesia. Perumahan yg tertata rapi, pemandangan yg bukan main indahnya, prosedur keselamatan yg amat sangat baik, rumah sakit yg kata orang terbaik di Indonesia, tp kita tidak bisa melihat secuil pun potongan mobil sedan di atas sini, yg ada hanya mobil penggenggerak 4 roda atau lebih, dan bis-nya pun modifikasi dari truk kontainer yg bagian belakngnya diberi dek tempat duduk buat puluhan karyawan yg menumpang.

Sekolah internasional, sekolah lokal, pasar swalayan, kantin yg menyediakan makanan prasmanan bebas pilih dan bebas nambah, tapi tanpa pelayan ya... jadi kalau habis makan kita harus membuang sendiri sisa makanan dan menaruhnya di tempat pencucian. Kecil tp riuh, sangat kecil kota ini persis seperti perumahan perumahan modern di pinggir Jakarta, tapi riuh karena hampir semua bangsa perwakilannya hadir disini, Amerika, Indonesia, Papua, Jawa, Sumatera, Sulawesi, Eropa, Asia...hanya Bangsa Afrika saja yg tidak sempat kutemui saat jam makan tiba, krn di kantinlah tempat gaul sambil nguyah yg paling enak, semua orang pasti berkumpul disini.

 



Melayang dengan helikopter diatas pegunungan Jayawijaya, memandang bentang alam dataran tinggi Papua itu, membuatku kagum, terpesona, iri. Keindahan hutan tropis berpadu dengan puncak-puncak es yang berabad lalu membuat penjelajah Belanda Jan Carstenzoon membelalakan matanya, tak percaya, ada puncak gunung es di pulau tropis. Ini membuatku terpesona, dan kagum akan kekayaan alam Papua, sekaligus iri karena meski aku orang Indonesia, semua ini terasa asing, sangat asing.

Pucuk pucuk es itu adalah primadona para pendaki dunia, satu dari tujuh gunung paling tinggi dari setiap benua, namun menggapainya tak mudah dan tak murah. Belumlah pusing terbayar dengan prosedur keselamatan pendakian gunung dan teknik pemanjatan, para pendaki harus berhadapan dengan kondisi keamanan yang tidak pernah stabil, kondisi sosial yang tak jelas. Sayang beribu sayang, Papua yang begitu kaya, tak mampu membawa sebagian besar penduduknya menjadi lebih sejahtera, revolusi yang terus terjadi, evolusi yang seakan mati. Papua ku sayang, Papua ku malang.